Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

Mimpi di Penghujung 2017

Gambar
Artikel yang akan saya tulis kali ini berbeda dari artikel-artikel sebelumnya. Seperti biasa di penghujung akhir tahun, resolusi menjadi hal yang wajib diisi sebelum tahun baru tiba. Semua orang akan menentukan resolusi tahun baru yang sangat luar biasa dahsyat. Mereka pun menulisnya dengan penuh semangat. Termasuk saya. Tapi, kebanyakan, resolusi yang dibuat hanya asal-asalan. Parahnya, semangat mereka cuma diawal doang. Begitu mendekati akhir tahun, eh  yang tercapai cuma seupil. Sakit baget kan? Gak perlu jauh-jauh salah satu korban resolusi asal adalah penulis artikel ini. Yap, orang yang tulisannya anda baca saat ini. 😥😫 Karena kebanyakan dari mereka ya termasuk saya pribadi sebelumnya menulis resolusi didasarkan nafsu belaka tanpa mengatur cara ataupun strategi untuk menggapainya. Alias asal tulis. Tapi kali ini saya sudah taubat nasuha hehe. Tahun 2018, saya akan mulai perbaiki semuanya. Resolusi yang akan saya buat bukan tanpa alasan dan sudah mulai saya pikirkan s...

Ternyata, Emoticon Terbukti Minimalkan Kesalahanpahaman

Gambar
Thoughtco.com Siapa di anatara kalian jika chattingan via media sosial tidak melewatkan yang namanya "emoticon". Ikon yang satu ini ternyata memiliki manfaat untuk meminimalkan kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Dikutip dari metrosulawesi.com emoticon berasal dari gabungan dua kata, yaitu "emotion" dan "icon" yang secara spesifik menggambarkan ekspresi wajah atau postur tubuh dalam rangka menyampaikan emosi atau sikap dalam surat elektronik dan pesan singkat," kata mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Teknologi Informasi Universitas Yarsi Jakarta, Widya Fajriani, di Jakarta, Rabu. Kebanyakan remaja saat ini cenderung lebih sering menggunakan emoticon untuk mewakili ekspresi mereka ketimbang tulisan. Kemudahan dan berbagai macam simbol dan ikon yang tersedia di media sosial sekaligus mewakili perasaan netizen saat itu. Saat mereka mendapat kabar gembira, sebagian besar dari mereka akan mengirim emoticon tersenyum atau gembkra un...

Dia Trauma dengan Muslim?

Sontak saya kaget saat teman dekat saya berkata sebut saja sahabat saya ini Jan (bukan nama sebenarnya) , "Dia termasuk.respect  sebenarnya sama kamu." "Hah, respect ambek aku maksudnya?" "Iya, sebenarnya dia itu gak mau berteman dengan orang muslim, karena dia itu wes trauma sering dibohongi sama temannya yang muslim. Mulai dari mencuri dan macam-macam. Tapi, dia sama kamu gak tahu kenapa dia gak benci. Biasanya, tuh ya dia gak mau kenalan sama orang muslim." "Oh ya?? Agak rasis juga yaa dia ternyata" " Lho iya dia rasis emang. Aku bilang gak semua muslim begitu, teman aku banyak muslim tapi gak tahu kenapa sama kamu bisa terima." "Iya dia bahkan bahkan menyapa aku fel sama bantuin kasih informasi penting tentang (sesuatu) yang saat itu aku butuh banget." "Mungkin karena aku dekat gitu lho sama kamu jadinya dia itu respect." Begitulah sekilas percakapan saya dengan "Jan" yang mengatakan bahwa pacar...

Persepsi Rina Nose Pindah Agama? Betulkah?

Gambar
Tribunnews.com Akhir-akhir ini masyarakat seolah disibukkan dengan fenomena selebriti asal Bandung atas keputusannya melepas hijab. Siapa lagi kalau bukan Rina Nose. Berita ini bahkan menjadi trending di youtube dan mesin pencari google. Seolah tak ada habisnya, keputusannya tersebut banyak diperbincangkan oleh sejumlah kalangan artis dan masyarakat. Berbagai persepsi pun muncul bahwa Rina telah pindah agama. Setelah wawancaranya, di channel  youtube milik Deddy Corbuzier tersebut, Rina pun menuliskan alasannya melepas hijab di selembar kertas yang diberikan kepada Deddy. Hanya beliau lah yang tahu alasannya melepas hijab diluar ranah keluarga. Berbagai spekulasi muncul melalui media youtube mulai dari ia telah dibaptis dan berganti nama hingga persepsi bahwa ia telah atheis. Luar biasa, anggapan tersebut menjadi trending 3 teratas di youtube. Saya hanya bisa bilang masyarakat yang mulai percaya terhadap hal ini harus berhati-hati dan mengecek kebenarannya. Padahal, hany...

Lenyap Dimakan Waktu, Media Ini Bukan Lagi Dambaan

Gambar
Pixabay.com "Siapa di sini yang mau jadi jurnalis?" Pertanyaan yang dilontarkan Pretty,seorang wartawan media lokal saat sedang memberikan tawaran menarik kepada murid SMA di Bontang. Aku pun mengangkat tangan kananku. Wow, ini hal yang menarik patut dicoba. Tapi, apakah koran masih ada yang baca? Apalagi sekarang semua serba online. Aku pun mendaftar dan diberi materi dan langsung praktek. Setiap ada berita,minggu berikutnya ada materi dan evaluasi dari berita yang kami ajukan. Yippi, akhirnya aku menjadi jurnalis juga walaupu masih jurnalis pelajar. Tapi, semua memiliki hak yang sama untuk mewawancarai natasumber begitu juga untuk mendapat berita. Bedanya, saya dan teman-teman dari berbagai sekolah tidak full time sebagai wartawan karena kami masih pelajar. Begitu seringnya aku menulis berita,semakin banyak koreksi, semakin tahu teknik menulis berita yang baik. Awalnya, agak menyepelekan karena media cetak seperti koran kurang diminati saat ini. Koran merupaka...