Lenyap Dimakan Waktu, Media Ini Bukan Lagi Dambaan
![]() |
| Pixabay.com |
"Siapa di sini yang mau jadi jurnalis?"
Pertanyaan yang dilontarkan Pretty,seorang wartawan media lokal saat sedang memberikan tawaran menarik kepada murid SMA di Bontang.
Aku pun mengangkat tangan kananku. Wow, ini hal yang menarik patut dicoba. Tapi, apakah koran masih ada yang baca? Apalagi sekarang semua serba online.
Aku pun mendaftar dan diberi materi dan langsung praktek. Setiap ada berita,minggu berikutnya ada materi dan evaluasi dari berita yang kami ajukan. Yippi, akhirnya aku menjadi jurnalis juga walaupu masih jurnalis pelajar. Tapi, semua memiliki hak yang sama untuk mewawancarai natasumber begitu juga untuk mendapat berita. Bedanya, saya dan teman-teman dari berbagai sekolah tidak full time sebagai wartawan karena kami masih pelajar.
Begitu seringnya aku menulis berita,semakin banyak koreksi, semakin tahu teknik menulis berita yang baik. Awalnya, agak menyepelekan karena media cetak seperti koran kurang diminati saat ini. Koran merupakan salah satu komunikasi massa yang bertujuan untuk menyampaikan pesan kepada khalayak luas atau publik. Biasanya, dikendalikan oleh gatekeeper adalah sejumlah orang yang mengontrol suatu pesan sebelum pesan tersebut disebarkan atau diberitakan kepada khalayak luas. Tapi, masyarakat khususnya generasi milenial sudah sangat jarnag membaca salah satu media massa ini.
![]() |
| Kompasiana.com |
Koran tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi publik. Kini, posisinha kini digantikan oleh perangkat yang lebih canggih. Koran merupakan salah satu komunikasi massa yang menjadi konsumsi publik sehingga menulisnya perlu hati-hati. Beberapa jenis tulisan terdiri dari berita,feature, dan banyak lagi. Teknik penulisannya pun berbeda.
Saat berita pertama yang kutulis tentang peringatan hari pendidikan nasional di pedalaman Teluk Kadere. Mba Pretty, mentor setiaku memuji beritaku. Namun,kualitas foto memang masih kurang bagus. Maklum, pakai HPku yang kini telah wafat. Berita yang kutulis ternyata merupakan jenis feature yaitu berita yang isinya terdiri dari lebih 1000 karakter dan lebih detail penjelasannya. Waktu terbitnya pun, bersifat tidak mendesak.
Menurut riset yang dilakukan Zenit Optimedia menyimpulkan setiap tahunnya pembaca koran mengalami penurunan 5 persen. Selama 4 tahun terakhir dari 2016 pembaca koran mengalami penurunan 25 persen dan pembaca majalah juga mengalami penurunan 19 persen.
Walau berita kini digantikan oleh telepon layar sentuh tetapi koran tetap memiliki penggemar setianya. Berbagai media lokal terus meningkatkan kualitas berita dari segi bahasa, isi berita, dan narasumber. Meski diterpa oleh berbagai media baru terutama internet koran masih dilirik sebagai sumber informas. Generasi milenial masih mengganggap bahwa koran menyajikan informasi lebih mendalam, praktis dibawa ke mana saja, dan busa dibaca berulang kali.
Sebanyak 75 persen kebanyakan milenial membaca berita seputar olahraga dan hiburan. Meskipun, sebagian masih melirik berita seputar isu politik, ekonomi, sosial, iptek, dan budaya yang terjadi di Tanah Air. Tapi, tetap saja intensnya generasi digital mengakses internet membuat mereka lebih senang mengakses jejaring sosial ketimbang membaca koran. Karena, berbagai kemudahan yang ditawarkan melalui produk digital ini. Apalagi, biaya internet yang cenderung murah.
Kebiasaan inilah yang membuat perusahaan penerbitan koran untuk beralih menciptakan koran digital atau epaper . Generasi digital juga masih ada yang membutuhkan informasi mendalam. Mereka juga masih peduli terhadap isu-isu yang berkembang di masyarakat dengan mengomentarinya lewat situ jejaring sosial.


Komentar
Posting Komentar