Dia Trauma dengan Muslim?

Sontak saya kaget saat teman dekat saya berkata sebut saja sahabat saya ini Jan (bukan nama sebenarnya) , "Dia termasuk.respect  sebenarnya sama kamu."
"Hah, respect ambek aku maksudnya?"
"Iya, sebenarnya dia itu gak mau berteman dengan orang muslim, karena dia itu wes trauma sering dibohongi sama temannya yang muslim. Mulai dari mencuri dan macam-macam. Tapi, dia sama kamu gak tahu kenapa dia gak benci. Biasanya, tuh ya dia gak mau kenalan sama orang muslim."
"Oh ya?? Agak rasis juga yaa dia ternyata"
" Lho iya dia rasis emang. Aku bilang gak semua muslim begitu, teman aku banyak muslim tapi gak tahu kenapa sama kamu bisa terima."
"Iya dia bahkan bahkan menyapa aku fel sama bantuin kasih informasi penting tentang (sesuatu) yang saat itu aku butuh banget."
"Mungkin karena aku dekat gitu lho sama kamu jadinya dia itu respect."

Begitulah sekilas percakapan saya dengan "Jan" yang mengatakan bahwa pacarnya sebut saja "Feb" yang bekerja sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan, benci dengan umat Islam karena pengalaman yang sangat tidak mengenakkan selama masa hidupnya.
Fenomena ini sering sekali saya dengar sebenarnya tapi kebanyakan tidak di Tanah Air. Ditulisan saya hanya ingin memberikan sebuah analogi pohon buah. Jika pohon buah yang berasal dari biji buah terbaik dan telah dirawat dengan baik, dengan dipupuk,disiram, dan dengan teknologi terbaik bahkan tidak ada hama atau bakteri yang menyerang pohon itu. Pertanyaan saya apakah semua buah yang tumbuh dalam satu pohon tersebut ada jaminan bahwa buahnya akan masak di pohon semua? Apakah ada jaminan TIDAK ADA satupun buah yang JATUH sebelum waktunya MASAK ATAU MATANG?

Baca pertanyaannya baik-baik. Secara logika, saya yakin anda yang membaca pasti akan menjawab TIDAK. Ya, tidak ada jaminan tidak ada satupun buah yang jatuh sebelum waktunya bahkan pasti ada buah yang busuk. Sama halnya seperti cerita saya tadi. Seluruh umat muslim di seluruh Indonesia bahkan dunia tidak bisa menjamin bahwa semua muslim  akan menjadi muslim yang baik.

Walaupun, mungkin terlahir dari keluarga yang baik-baik,telah dididik secara agama. Tapi, tidak ada yang bisa menjamin dia akan menjadi apa setelah itu. Bahkan, yang terlahir dari keluarga yang mohon maaf kurang baik dengan pendidikan agama yang kurang apa ada jaminan anak tersebut tidak akan menjadi baik atau ada kepastian akan menjadi kurang baik juga. Sehingga, dari analogi tersebut kita dapat melihat secara lebih luas.

Tidak ada satupun agama yang mengajarkan untuk melakukan perbuatan tercela. Prasangka bahkan kecaman dari "Feb" menjadi tamparan bagi kita terutama umat Islam untuk selalu berbuat baik kepada siapa saja. Mainset dia tentang Muslim kalau Muslim itu jahat menjadi teguran bagi diri saya sendiri terutama bahwa setiap hal yang kita lakukan tentu akan dinilai oleh orang lain dan akan disangkut pautkan dengan kata "agama".

Komentar

value

Model Komunikasi Kids Jaman Now

Jawa Timur Gemakan Asian Games 2018

Inspirasi dari Finalis Jakarta Fashion Week 2018