Keluarga, Pendidik Anak pada Zamannya
![]() |
| kumparan.com |
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat. Lingkungan keluarga adalah lingkungan pertama dan utama yang harus diberikan pada anak. Beban orang tua bertambah bukan hanya sebagai pengasuh dan pemberi nafkah, tetapi juga sebagai pendidik anak sesuai dengan jamannya. Selama ini mungkin kita terkungkung oleh definisi pendidikan yang terbatas pada sekolah atau tempat les atau fasilitas belajar formal lainnya. Ketika tanpa sadar, pendidikan yang paling utama bukan sekedar tentang menyekolahkan anak ke tempat yang bereputasi, tetapi pendidikan yang sebenarnya justru di pelukan dan pangkuan orang tuanya.
Ibarat botol dengan
tutupnya,
teknologi dan manusia saat ini sangat sulit untuk dipisahkan. Kehidupan manusia
yang lengket dengan gawai yang dimiliki manusia. Istilah era digital hadir
karena segala aktivitas manusia dapat dilakukan dengan mudah dengan kecanggihan
teknologi informasi dan jaringan internet. Kecanggihan ini bergerak cepat
sampai mempengaruhi pola pikir dan sikap manusia. Terutama anak-anak. Di rumah
ataupun di sekolah,
anak-anak saat ini tidak bisa lepas dengan perangkat serba elektronik khususnya
smartphone. Peradaban yang semakin
maju, terlebih kini harga gawai yang semakin
terjangkau, mengakibatkan
banyak anak yang sudah memiliki dan aktif menggunakan smartphone sejak usia
yang sangat dini.
Ironisnya, gawai telah
merasuki kehidupan anak usia 0-6 tahun yang seharusnya belum layak diberi kebebasan penuh dalam menggunakan
perangkat tersebut.
Inilah tantangan bagi
orang tua dalam mendidik anak di era kekinian. Suka atau tidak, orang tua harus mengikuti perkembangan zaman.
Gawai mungkin hanya satu dari sekian tantangan orang tua
masa kini. Namun, inti dari kemajuan demi kemajuan teknologi sebenarnya adalah tantangan
untuk mendidik
anak sesuai jamannya. Orang tua tidak bisa memaksakan melakukan hal yang sama
seperti orang tua mereka sebelumnya. Pola pendidikan saat ini sudah sangat
berbeda dari orang tua jaman dulu,
saat teknologi belum semutakhir sekarang.
Internet tidak hanya
membawa dampak positif bagi anak melainkan juga negatif. Kekhawatiran tersendiri bagi orang tua
yang memiliki anak dan remaja. Data dari kompas.com (2018/2/22) menunjukkan
lebih dari 50% atau sekitar 143 juta orang Indonesia terhubung oleh internet.
Sangat mengejutkan karena sekitar 768 ribu anak di bawah 15 tahun dapat
mengakses internet. Meskipun
pengguna di usia tersebut memang belum aktif berselancar di media
sosial, namun rupanya survei yang sama menemukan bahwa anak-anak
tersebut sangat aktif menonton video melalui YouTube. Filter konten
yang masih jauh dari kata memuaskan mengakibatkan
anak-anak dapat dengan mudahnya
terpapar bahkan mengakses konten berbau pornografi dan
kekerasan. Di sinilah esensi
dari orang tua sebagai pendidik yang sebenar-benarnya. Fenomena kemajuan
teknologi yang merupakan pedang bermata dua, menuntut orang tua tidak lagi
menjadi pihak yang pasif memasrahkan kualitas anak-anaknya kepada guru ataupun
tutor bimbingan belajar. Lebih dari sekedar membayar SPP bulanan, kewajiban orang
tualah untuk peduli dan
memastikan anaknya mendapatkan pendidikan kehidupan yang layak, salah satunya
melalui menempatkan dirinya sebagai manajer gawai yang
memantau penggunaan gawai bijak
bagi
anak.
Sebagai contoh, saat anak berusia di bawah 7 tahun ajak anak berinteraksi melalui
video-video edukatif seperti belajar membaca, berhitung, belajar Bahasa Inggris, atau mendampingi anak beraktivitas dengan
permainan-permainan edukatif. Membiarkan
anak mengakses gawai orang tuanya berharap
anak
bisa pintar dengan sendirinya,
atau agar anak tidak
mengganggu aktivitas orang tuanya,
sesungguhnya adalah gagasan yang egoistis. Bayangkan saja jika informasi yang tidak pantas sesuai usia, ditonton anak dengan mudah melalui youtube atau
iklan pop-up yang tidak sengaja
dilihat anak tanpa pengawasan.
Sedangkan masa kanak-kanak adalah masa di mana anak
menyerap pengetahuan dan pemaknaan dengan meniru apapun yang mereka lihat dan
dengar dari lingkungannya, termasuk dari apa yang mereka lihat
di gambar, cerita, kartun, hingga video.
Usia anak dan remaja
adalah usia labil dan penuh dengan rasa penasaran yang tinggi. Fenomena yang dekat menjadi jauh menjadikan gawai seolah menggantikan fungsi kelekatan
yang seharusnya didapat anak dari berproses dalam relasi keluarga,
bukan justru anak merasa lebih dekat dengan gawainya. Sebagian orang tua mungkin menganggap bahwa interaksi
dengan anaknya cukup dilakukan secara mudah
online
to online, tapi banyak di antara kita melupakan bahwa hakikat
interaksi antara anak dan orang tua adalah dari hati ke hati.
Psikolog Elly Risman
mengatakan orang tua sebaiknya
sudah memulai
membuat apa tujuan pengasuhan sejak anak dilahirkan. Selain itu, adalah hal yang sangat penting untuk membuat
kesepakatan bersama antara ayah dan ibu dalam mendidik anak. Kesepakatan
tentang prioritas apa saja yang diberikan hingga bagaimana cara pendekatannya, harus dibahas secara jeli oleh kedua
orang tua. Meskipun, orang tua bekerja, langkah-langkah
sederhana seperti meluangkan waktu untuk berkumpul bersama saat
sarapan, mengobrol dari hati ke hati, dan mengantar sekolah mungkin berdampak jauh lebih besar dari yang kita kira.
Anak akan memiliki kesempatan untuk terbuka
terhadap orang tuanya, untuk mengomunikasikan
gagasan-gagasannya bahkan sekedar membicarakan hal-hal trivial
yang besarnya hanya sebutir pasir pun. Buatlah anak senyaman mungkin berada di
dekat ayah dan ibunya, bukan di
dekat gawainya.
Tak ada salahnya
memberi kebebasan,
namun ingat anak juga perlu belajar
akan kebebasan yang penuh tanggung jawab termasuk dalam pemakaian gawai. Saat
anak bermain games hingga larut
malam, buatlah kesepakatan untuk menunaikan tanggung jawabnya sebagai pelajar
keesokan harinya. Pemberian kepercayaan akan membuat anak wajib menjaga
kepercayaan orangtuanya.
Manakala orang tua
melarang anak sering-sering memakai gawai namun orangtuanyalah yang malah selalu terlihat sibuk dengan gawainya
sendiri. Bukan salah anak jika anak meniru apa yang dilakukan ayah ibunya. Karena orang tua adalah refleksi atau
cermin perilaku bagi anak. Jangan salahkan anak jika saat kumpul keluarga misalnya
sambil menonton televisi anak cenderung acuh tak acuh dan sering tidak menggubris obrolan santai antara
ayah, ibu, dan anak karena anak fokus dengan teman di media sosial. Fenomena “generasi nunduk” yang menggambarkan bagaimana anak tidak mampu melepas
ketergantungannya menggunakan gawai, menciptakan gap yang
jauh lebih lebar antara anak dan orang tua. Ayah dan ibu
adalah role model bagi anak, baik dan buruknya anak sangat bergantung pada bagaimana
kualitas yang dicontohkan kedua orang tuanya.
Tidak ada salahnya
memulai pembicaraan saat kumpul keluarga sekedar menanyakan bagaimana pelajaran
di sekolah, tentang temannya, atau ngepoin
teman yang ditaksir di sekolah. Pertanyaan ini akan memancing keterbukaan
bagi anak agar anak mau menceritakan semuanya kepada ibu atau ayahnya. Sama halnya seperti kita orang dewasa, ketika anak sudah
menaruh kepercayaan kepada orang tuanya, di situlah pendekatan yang bersifat
supervisi pun akan jauh lebih mudah. Dan kunci awal keberhasilan dari pendidikan kehidupan
tersebut adalah kualitas komunikasi.
Komunikasi yang dibutuhkan bukan komunikasi yang menuntut orang tua
harus pintar berbicara tapi cara menyampaikan sesuatu kepada anak. Sekedar
menanyakan mengapa dan bagaimana untuk membuat anak berpikir atas tindakan yang
diperbuat. Bukan memarahi tetapi mengajari pentingnya tanggung jawab atas keputusan
yang dibuat. Mendiskusikan
konsekuensi alih-alih sekedar melarang, membuat anak tidak takut
bertindak dan bereksplorasi.
Komunikasi yang dibangun sesederhana
saat ibu atau ayah sibuk mengajak makan di luar setelah pulang sekolah. Tidak ada salahnya juga jika orang tua
tahu tontonan kesukaan anak semisal anak suka menonton drama korea orang tua
bisa mengobrol tentang oppa-oppa
ganteng yang ada di film tersebut.
Terlihat remeh mungkin, namun membuka diri untuk menjadi orang tua yang
up to date
dan peduli terhadap apa yang disuka dan
tidak disukai anak, bisa menjadi pembuka pintu menuju dunia sang anak.
Nah, sangat penting
orang tua juga harus meng-upgrade pemikiran,
pengetahuan, dan kemajuan teknologi informasi agar bisa mudah berempati dan memahami cara berpikir anak,
atau dalam istilah gaulnya, nyambung.
Perlu diakui, dalam kenyataannya,
banyak anak yang jauh lebih maju
dibanding orang tuanya
saat ini. Orang tua perlu
jurus pamungkas untuk tetap memiliki akses untuk memasuki semesta sudut pandang
anaknya, yaitu kemauan untuk berkembang dan mengerti kemajuan jaman.
Sehingga,
pembicaraan antara anak dan orang tua bisa sejalan dan minim saling menyerang. Mulai dari hal-hal sederhana. Tidak
ada salahnya belajar bagaimana menggunakan
fitur story
di instagram, mengabadikan momen keluarga di sosial media, mengikuti trending topic terkini. Menjadi orang tua adalah PR besar, lebih-lebih karena
kita tidak hidup di era yang stagnan. Semua berubah, semua mengalami
pemutakhiran, termasuk anak dan cara mendidiknya. Pada akhirnya,
hakikat peran menjadi orang tua adalah sebagai pendidik anak sesuai zamannya.
#sahabatkeluarga
Referensi :
https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/m/index.php?r=tpost/xview&id=4633
https://m.detik.com/wolipop/read/2016/05/27/183233/3219694/857/7-tips-pengasuhan-anak-di-era-digital-dari-psikolog-elly-risman
#sahabatkeluarga
Referensi :
https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/m/index.php?r=tpost/xview&id=4633
https://m.detik.com/wolipop/read/2016/05/27/183233/3219694/857/7-tips-pengasuhan-anak-di-era-digital-dari-psikolog-elly-risman


Komentar
Posting Komentar