Beda Tempat, Perantauan Tak Semua Mengerti yang Kita Maksud

Ini kedua kalinya aku datang ke Surabaya, tidak ada yang spesial awalnya pasti kalau datang ke pulau jawa mayoritas menggunakan bahasa jawa pun kalau bukan orang jawa pasti logatnya udah beda. Tapi, saat mulai ngampus, bahasa yang dipakai di kampus it kasar banget hehe (maaf yaa) maksudnya jawa kasar secara mama orang jawa tapi jawa tengah. Timur dan tengah kan bahasanya udah beda.

Yap....ini menjadi salah satu hambatan saya dalam berkomunikasi khususnya saat kuliah atau membeli barang. Apalagi di Surabaya, sama sekali gak ada keluarga. Untungnya, anaknya ibu kos dekat sama aku. Selain karena sama-sama cewek dia juga baru lulus tapi ospeknya masih lama. Jadi, ada yang nemenin jalan-jalan deh.

Semuanya pakai bahasa jawa sumpah gak ngerti seolah-olah kemanapun aku pergi disitu ada yang menemani aseeekk. Menemani sebagai penunjuk jalan dan penerjemah wkwk. Yang paling penting sebagai teman ngobrol. Karena yang dipakai bahasa jawa sini, kadang gak ngerti misal, kon iku nguawur. Sempat diriku tersentak saat kata-kata tersebut keluar kalau di daerahku kan alias di kalimantan jika ada orang berkata kon itu maknanya sudah negatif. Tapi ternyata, di sini artinya kon sama dengan kamu.

Perbedaan bahasa sebenarnya bukan menjadi masalah yang besar apalagi masih satu tanah air dan mama wanita berdarah jawa membuatku bukan sebuah halangan. Sebenarnya, yang sedikit menjadi masalah adalah kebiasaan dan gaya hidup. Di tempatku merantau ini aku lebih berhati-hati dalam berbicara takutnya salah paham karena belum mengenal satu sama lain. Berbeda jika sudah dekat akan lebih lepas nantinya. Tapi, hati-hati bukan berarti "gak enak". Kesalahan terbesar orang Indonesia yang menjadi penyebab negara ini belum menjadi negara maju adalah faktor gak enak. Kenapa? Karena, kata pelatih MBku alias marching band beliau adalah asli kewarganegaraan Amerika Serikat yang sudah puluhan tahun mengajar di Indonesia tepatnya Bontang, Kalimantan Timur. Alm. Mr. Rene Conway, tahun 2013 pernah berkata Indonesia gak akan maju kalau gak enak muluk. Mulai dari gak enak menegur ada yang tidak baik atau meminta tolong atau tindakan lainnya. Yang paling parah jika gak enak atau malu bertanya atau malu untuk belajar.

Semisal saja, suatu malam aku bersama temanku Nada namanya pergi untuk berteku dengan Ibu Ira seorang ibu rumah tangga yang sudah lama mengembangkan bank sampah di wilayahnya. Jaraknya tidak jauh dari kosanku dan Nada sekitar meter. Kami berbincang dengan ekspresi wajah yang menurutku datar mungkin lelah sembari menunggu anaknya pulang kuliah yang terletak sangat jauh dari rumahnya di UPN Surabaya. Dengan suara yang pelan kurekam dengan handphoneku warna rose gold, warna kesukaanku. Karena, lumayan tidak jelas suaranya jika ibunya berbicara sehingga harus direkam ke arah dekat mulutnya.

Setelah beberapa lama tanya jawab mengenai bank sampah untuk tugas Entrepreneur, kami pamit pulang. Ada hal yang menurutku entah karena perbedaan kebiasaan atau bagaimana seolah Ibu Ira berkata,

"aduh,sampai lupa gak disediakan minum".

Saat kita pulang, Nada memberikan ekspresi atau bahasa tubuh yang sedikit kesal dan berkata

"tuh kan ibunya itu kode minta dibawakan bingkisan, soale lek di sini iku lek butuh sesuatu harus kasih bingkisan duh jadi gak enak", cetus Nada dengan bahasa khas Surabayanya, aku pun sedikit aneh. Apakah setiap ingin meminta bantuan harus membawa bingkisan semacam makanan terlebuh dahulu? Bukankan ibu tersebut termasuk aktivis lingkungan yang sudah sepatutnya ia dimintai tolong untuk memberikan ilmu  bank sampah agar pengolahan sampah semakin baik dan lingkungan menjadi bersih.

Terkadang perbedaan cara pandang dan kebiasaan yang membuatku berpikir tentang cara orang lain memberikan sesuatu, mengode maupun mengekspresikan permintaan mereka bisa berbeda tiap daerah. Atau hal ini bukan dibentuk dari budaya daerah setemoat melainkan dari orang tua atau lingkungan sekitar.

Akhirnya, setelah pertemuan kami dengan Ibu Ira, dua hari kemudian kami bertenu dengan pihak unilever di daerah Lidah Wetan dan membawa bingkisan lumayan enak brownies produk Amanda yang cukup terkanal karena faktor tidak enak dari kami. Tapi, tidak mudah mendapatkan rumahnya, gangnya tidak berurutan dan di RT tersebut ada tiga nama Bu Titi. Hal inilah yang menimbulkan salah paham. Pemberian informasi yang kurang jelas membuat kesesatan yang untungnya ada ujungnya. Hihii..

Kami bertanya dengan seorang nenek yang kebetulan lagi di luar rumah, akhirnya dia tahu Ibu Titi tapi bukan Ibu Titi yang kami maksud. Melewati gang yang sangat kecil ternyata nenek itu menunjukkan rumahnya Ibu Titi RT setempat. Sontak kami kaget, foto profil aplikasi whatsapp Ibu Titi yang kami maksud berbeda dengan yang ada di depan mata. Lalu, kami bertanya dan kami jelaskan Ibu Titi yang kami cari adalah Ibu Titi egiz entah apa egiz itu.

"Ibu maaf ini rumahnya Bu Titi?"
"Oh ya sata Bu Titi."
"Bi Titi Egiz yang pengurus unilever?"
"Oh......Bu Titi itu, sampeyan putar balik ke arah masjid tadi lalu lurus saja RW 1"

Sekelompok ibu-ibu yang sudah tak muda lagi di rumah Ibu RT itu mengerti dan langsung menunjukkan jalan yang benar. Setelah putar balik, bertemulah kami dengan Ibu Titi seorang aktivis dan pendamping unilever di rumah sederhananya ditemani dengan singkong rebus dan teh dingin kemasan botol.




Komentar

value

Model Komunikasi Kids Jaman Now

Jawa Timur Gemakan Asian Games 2018

Inspirasi dari Finalis Jakarta Fashion Week 2018