Pelajar dalam Musyawarah Daerah
Tepatnya Hari Senin, aku memakai seragam putih abu-abu bersama keempat temanku. Kami mewakili Forum Anak Bontang yang diundang untuk menghadiri Musyawarah Rencana Pembangunan Daerah atau musrenbang. Aku lupa tanggal pastinya, tetapi hari itu seolah secuil dari sekian banyak pelajar serasa menjadi orang penting di bangku pemerintahan. Jelas, kami di sana di ruang rapat kantor BAPPEDA lantai 2 berniat membawa aspirasi kami khususnya aspirasi anak Bontang dihadapan pemangku kebijakan.
Ini bukan main-main apalagi debat kusir seperti gosip antarsiswa. Satu persatu dari kami menyampaikan aspirasi anak Bontang yang sangat belum layak anak.
Seperti, di kotaku belum ada bus sekolah untuk sekolah negeri hanya sekolah swasta yang memilikinya. Selain itu, aspirasi tentang toilet ramah anak dan penyandang dissabilitas tak luput dari perhatian kami. Hal itu penting disampaikan, agar saat pemerintah menyediakan fasilitas, mereka memperhatikan kelayakan anak. Yap, kami mewakili ribuan anak Bontang untuk menyampaikan aspirasi kami di hadapan mereka secara langsung. Berbagai alasan dilontarkan dari pihak pemerintah, yap karena mereka sudah terbiasa menjawab sesuatu dengan berbagai alasan. Sebenarnya, suatu kehormatan saya ditunjuk dan hadir dalam musyawarah tersebut tetapi di sisi lain, saya merasa ini akan percuma karena nantinya rapat ini hanya akan dijadikan bukti musrenbang untuk melengkapi notulensi atau hanya sekadar rapat dan rapat tanpa realisasi yang nyata. Tapi, sebagai manusia kita hanya berusaha selebihnya biar Tuhan yang mengatur.
Di ruangan dengan derajat celcius yang rendah, dengan penuh keyakinan,tatapan mata yang sedikit tajam, dagu diangkat,dan bibir mendekat ke arah pengeras suara kami menyampaikannya dengan penuh keyakinan memperjuangkan hak anak. Di ruang rapat membentuk huruf U. Setiap SKPD terkait saling lempar tanggung jawab dan penjelasannya masing-masing. Banyak sekali yang dihasilkan dalam rapat tersebut dan akhirnya berakhir dengan sebuah harapan semoga terealisasikan dan diakhiri dengan jabat tangan. Kami pun pulang.
Ini bukan main-main apalagi debat kusir seperti gosip antarsiswa. Satu persatu dari kami menyampaikan aspirasi anak Bontang yang sangat belum layak anak.
Seperti, di kotaku belum ada bus sekolah untuk sekolah negeri hanya sekolah swasta yang memilikinya. Selain itu, aspirasi tentang toilet ramah anak dan penyandang dissabilitas tak luput dari perhatian kami. Hal itu penting disampaikan, agar saat pemerintah menyediakan fasilitas, mereka memperhatikan kelayakan anak. Yap, kami mewakili ribuan anak Bontang untuk menyampaikan aspirasi kami di hadapan mereka secara langsung. Berbagai alasan dilontarkan dari pihak pemerintah, yap karena mereka sudah terbiasa menjawab sesuatu dengan berbagai alasan. Sebenarnya, suatu kehormatan saya ditunjuk dan hadir dalam musyawarah tersebut tetapi di sisi lain, saya merasa ini akan percuma karena nantinya rapat ini hanya akan dijadikan bukti musrenbang untuk melengkapi notulensi atau hanya sekadar rapat dan rapat tanpa realisasi yang nyata. Tapi, sebagai manusia kita hanya berusaha selebihnya biar Tuhan yang mengatur.
Di ruangan dengan derajat celcius yang rendah, dengan penuh keyakinan,tatapan mata yang sedikit tajam, dagu diangkat,dan bibir mendekat ke arah pengeras suara kami menyampaikannya dengan penuh keyakinan memperjuangkan hak anak. Di ruang rapat membentuk huruf U. Setiap SKPD terkait saling lempar tanggung jawab dan penjelasannya masing-masing. Banyak sekali yang dihasilkan dalam rapat tersebut dan akhirnya berakhir dengan sebuah harapan semoga terealisasikan dan diakhiri dengan jabat tangan. Kami pun pulang.
Komentar
Posting Komentar