Baru Tahu Setitik Budaya Tempatku Terlahir
Indonesia terdiri dari ribuan suku dan budaya. Masing-masing memiliki keunikannya sendiri. Bahkan, budaya di suatu daerah belum tentu bisa diterapkan di daerah lain. Inilah kekayaan negeri yang hakiki. Terlahir dari sebuah kota kecil di Pulau Borneo. Sangat kecil, bahkan di peta tidak terlihat jelas lokasi kota tersebut. Di mana lagi kalau bukan di Kota Bontang. Sebuah kota yang hanya terdiri dari 500.000 ribu kepala keluarga. Banyak yang tidak tahu kota tersebut. Kota yang kaya akan wisata baharinya cukup jitu mengundang wisatawan domestik maupun mancanegara. Hampir semua penduduk kota ini merupakan pendatang dari berbagai daerah. Kata "tang" yang artinya adalah pendatang menunjukkan bahwa kota ini sebagai tujuan perantauan untuk mengais rezeki.
Namun, kebanyakan warga kota ini belum tahu setiap wilayah memiliki penduduk asli kota itu. Begitu pula dengan Bontang. Penduduk aslinya ada di Bontang Kuala. Pusat kebudayaan dan wisata khas Kota Bontang mulai dari bahasa,makanan khas, hingga wisata bahari ada di tempat ini. Uniknya, saat saya berjumpa dengan tetuah tempat ini jika warga Bontang Kuala merasa dekat dan nyaman dengan seseorang maka akan dianggap seperti keluarga. Bukan hanya itu, kebiasaan warga sini saat bertamu kalau sudah akrab boleh langsung masuk ke rumahnya tanpa ijin dan makan.
"Satu Bontang Kuala ini satu keluarga jadi kalau saya makan di cafe lain yang penting masih di sini pasti gratis apalagi kalau datang ke rumah orang langsung saja makan karena sudah dekat,"cetus Bu Halimah.
Awalnya, pertemuan saya dengan beliau hanya sebatas karena tanggung jawab sebagai koordinator salah satu event nasional dan akan ada sajian dan penyambutan tamu dari Bontang Kuala kepada peserta Jambore Generasi Hijau Nasional. Karena itulah, bu lurah setempat mempertemukan kami dengan orang yang bisa dibilang tahu segalanya dengan kampung di atas laut ini.
Bontang Kuala yang berisi beranekaragam wisata kuliner mulai dari Gammi bawis hingga makanan pada umumnya. Kebanyakan selain sebagai pelaut dan petani rumput laut mereka membuka usaha cafe atau rumah makan di atas laut. Pertemuan pertama saya dengan Bu Halimah sangat canggung jika begitu kata beliau berarti tidak dekat atau tidak akrab. Akan tetapi, pertemuan kedua saya dengan beliau untuk membicarakan konsumsi tamu nasional beliau sangat antusias bercerita dan tenyata sangat lucu. Gaya bicaranya yang khas dan fasih berbahasa asli Bontang ini mengetahui seluk beluk Bontang Kuala.
"Kalau kita berbicara sama orang kalau sudah klop begitu sampai mukul eh makan-makan dan suaranya lebih keras".
Mungkin, jika orang awam melihat hal ini mengajak orang makan atau bicara sambil memukul bahkan berteriak dianggap tidak sopan di daerah lain. Tapi, inilah keunikan budaya di sini jika tidak akrab justru mereka akan sangat canggung dan malu-malu. Setelah diceritakan oleh beliau justru saya menganggap hal ini bukan sikap yang tidak baik tetapi suatu budaya yang unik dan saya sangat senang melihatnya. Mereka bisa akur satu kelurahan dengan baik bahkan satu keluarga tinggal di satu tempat yang sama dan saling mengenal satu sama lain adalah hal yang belum pernah saya temui sebelumnya. Warga Bontang Kuala memiliki rasa persaudaraan yang begitu besar.
Paling istimewanya lagi pertemuan kedua saya ini sebelum saya terbang ke Surabaya saling memberikan feedback yang tidak disangka. Kedatangan saya dan teman-teman seksi acara lainnya selaku panitia membuka pemikiran batu untuk Bu Halimah. Kata beliau setelah diskusi dengan kami, beliau langsung memikirkan generasi muda kedepannya.
"Karena adanya kalian makanya saya mikir siapa yang bakal meneruskan kekayaan budaya Bontang kalau bukan anak-anak seperti kalian. Sekarang saja banyak yang tidak tahu budaya asli sini. Perusahaan bantu membangun prasarana di sini tetapi dia tidak berpikir untuk kedepannya gimana."
Dalam hati, saya berkata, saya sendiri saja tidak tahu seperti apa budaya asli sini karena hanya diceritakan Bontang ya kota pendatang tidak ada bahasa adanya logat. Bahkan, kebanyakan warga di luar Bontang Kuala juga berpikiran sama dengan saya. Tapi, setelah bertemu langsung dengan Bu Halimah membuka mata saya bahwa kota saya luar biasa kaya dan memiliki makna tersendiri jika dilestarikan. Saya merasa malu kenapa anak muda seperti saya dan teman-teman tidak mencari tahu budaya asli tempat kami lahir dan dibesarkan. Kenapa kami tidak mencari tahu bahwa ternyata bahasa yang digunakan mirip dengan bahasa Filipina.
Akhirnya, saya dan teman-teman pamit karena mama saya sudah menelpon untuk menyuruh saya pulang. Saya sekaligus pamit memohon doa restu untuk berangkat ke Surabaya.


Komentar
Posting Komentar