Keajaiban Nonverbal Eps 2
Hari-hari yang ditunggu pun tiba setelah Viani berlatih ia tidak lupa berdoa. Berdoa menurutnya adalah satu bentuk komunikasinya kepada Sang Pencipta. Karena menurutnya doa memiliki kekuatan yang sangat lusr biasa. Tengah malam ia bangun untuk.menunaikan Shalat Tahajjud sesuai yang diajarkan Allah akan turun ke bumi pada 1/3 malam sekitar jam 2-3 pagi waktu tersebut yang kemungkinan besar dikabulkan oleh-Nya.
Komunikasi ia dengan Tuhan merupakan komunikasi intrapersonal. Komunikasi seolah tidak memiliki lawan bicara. Nah, dari doanya ia meminta diberi kemudahan dan kelancaran untuk menjadi presenter untuk pertama kalinya di hadapan banyak orang. Ia tidak ingin mengecewakan Pak Badi selaku mentor yang sudah melatih keras dirinya. Jika besok ia berhasil ini akan menjadi kesempatan dan peluang bagi karir Viani.
Dari doanya ia meneteskan air mata karena keesokan harinya akan menjadi sejarah indah dalam hidupnya jika bisa melakukan yang terbaik.
"Ya Allah sesungguhnya aku hanya manusia yang hanya bisa berusaha dan berdoa kepada-Mu segala yang terjadi esok hari akan kuserahkan hanya untuk-Mu. Berilah kemudahan, kesiapan fisik dan mental, karena hamba Mu ini tidak akan menjadi apa-apa tanpa pertolongan-Mu."
Ia pun menutup doanya. Sebelum tidur pun ia berlatih di depan kaca sambil pura-pura memegang alat pengeras suara. Ia mempraktekkan apa yang sudah diajarkan Pak Badi mulai dari sikap dan gestur tubuh sebelum membuka acara. Semua materi Komunikasi nonverbal dan public speaking, bagaimana berinteraksi dengan penonton ia lakukan.
Esok hari pun tiba ia memakai gaun sangat cantik. Secara mental ia sudah siap berhadapan dengan 10.000 penonton yang hadir. Pak Badi menyempatkan waktu untuk datang walau anaknya baru saja masuk rumah sakit karena terkena diare. Ia berada di samping panggung melihat muridnya pertama kali menjadi presenter. Ia pun berdoa dan yakin bahwa suatu saat nanti anak ini pasti akan eksis sebagai presenter handal.
Viani memperlihatkannya raut wajah bahagia dan senyum lebar walau dalam hsti ia sangat gugup. Ia sempat bolak-balik toilet alias demam panggung. Hanya shalawat yang bisa ia lakukan saat itu.
Akhirnya, Viani pun membuka acara di atas panggung. Namun, mikrofon yang ia gunakan tiba-tiba mati. Dan ia langsung panik apa yang harus ia perbuat. Penonton pun bingung. Setelah beberapa saat keadaan kembali normal ia kembali mengumpulkan nyawanya yang sempat hilang. Kini, ia menunjukkan kalau dia bisa menunjukkan potensi yang ada dalam dirinya. Ia pun menutup acaranya dengan gembira dan diakhiri tepuk tabgan penonton yang meriah.
Ia mengucapkan terima kasih kepada Pak Badi dan bersyukur atas nikmat yang luar biasa hari itu. Setelah hari itu pun, Viani tidak melewatkan waktu berdua dengan Tuhan di malam yang suntuk.
Komunikasi ia dengan Tuhan merupakan komunikasi intrapersonal. Komunikasi seolah tidak memiliki lawan bicara. Nah, dari doanya ia meminta diberi kemudahan dan kelancaran untuk menjadi presenter untuk pertama kalinya di hadapan banyak orang. Ia tidak ingin mengecewakan Pak Badi selaku mentor yang sudah melatih keras dirinya. Jika besok ia berhasil ini akan menjadi kesempatan dan peluang bagi karir Viani.
Dari doanya ia meneteskan air mata karena keesokan harinya akan menjadi sejarah indah dalam hidupnya jika bisa melakukan yang terbaik.
"Ya Allah sesungguhnya aku hanya manusia yang hanya bisa berusaha dan berdoa kepada-Mu segala yang terjadi esok hari akan kuserahkan hanya untuk-Mu. Berilah kemudahan, kesiapan fisik dan mental, karena hamba Mu ini tidak akan menjadi apa-apa tanpa pertolongan-Mu."
Ia pun menutup doanya. Sebelum tidur pun ia berlatih di depan kaca sambil pura-pura memegang alat pengeras suara. Ia mempraktekkan apa yang sudah diajarkan Pak Badi mulai dari sikap dan gestur tubuh sebelum membuka acara. Semua materi Komunikasi nonverbal dan public speaking, bagaimana berinteraksi dengan penonton ia lakukan.
Esok hari pun tiba ia memakai gaun sangat cantik. Secara mental ia sudah siap berhadapan dengan 10.000 penonton yang hadir. Pak Badi menyempatkan waktu untuk datang walau anaknya baru saja masuk rumah sakit karena terkena diare. Ia berada di samping panggung melihat muridnya pertama kali menjadi presenter. Ia pun berdoa dan yakin bahwa suatu saat nanti anak ini pasti akan eksis sebagai presenter handal.
Viani memperlihatkannya raut wajah bahagia dan senyum lebar walau dalam hsti ia sangat gugup. Ia sempat bolak-balik toilet alias demam panggung. Hanya shalawat yang bisa ia lakukan saat itu.
Akhirnya, Viani pun membuka acara di atas panggung. Namun, mikrofon yang ia gunakan tiba-tiba mati. Dan ia langsung panik apa yang harus ia perbuat. Penonton pun bingung. Setelah beberapa saat keadaan kembali normal ia kembali mengumpulkan nyawanya yang sempat hilang. Kini, ia menunjukkan kalau dia bisa menunjukkan potensi yang ada dalam dirinya. Ia pun menutup acaranya dengan gembira dan diakhiri tepuk tabgan penonton yang meriah.
Ia mengucapkan terima kasih kepada Pak Badi dan bersyukur atas nikmat yang luar biasa hari itu. Setelah hari itu pun, Viani tidak melewatkan waktu berdua dengan Tuhan di malam yang suntuk.
Komentar
Posting Komentar