Cerdas Hadapi Hoax
Perkembangan teknologi dan internet memberikan dampak yang begitu besar bagi kehidupan manusia. Dengan teknologi manusia dengan mudah bercakap-cakap melalui media sosial. Hanya bermodal paket internet dan telepon genggam kini manusia bisa dengan mudah mendapatkan informasi begitu cepat hanya dalan waktu sepersekian detik. Luar biasa, Tuhan memberikan kecerdasan yang sangat hebat kepada manusia dalam peradaban zaman. Akan tetapi, di balik itu semua manusia dengan mudah menelan informasi yang belum tentu kebenarannya. Akhir-akhir ini marak diberitakan hoax yang tersebar di media sosial maupun website tertentu. Berita terbaru yang menghebohkan tentang meletusnya Gunung Agung di Bali yang akan terjadi pada 24 September malam hari ternyata tidaklah benar. Berita tersebut bukan dari BMKG setempat tetapi berita simpang siur yang beredar di masyarakat entah apa tujuannya. Yang jelas informasi tersebut menyebutkan arah letusan akan mengarah ke daerah Surabaya. Sontak, seketika membuat masyarakat Surabaya khususnya yang dekat dengan Bali was-was akan hal itu.
Belum lagi berita-berita yang mengatasnamakan orang atau media tertentu. Manusia apalagi generasi milenial yang intens dengan gadget sangat mudah menerimanya tanpa filterisasi terlebih dahulu. Kemungkinan karena tidak mau ketinggalan berita atau ingin menghebohkan sesuatu padahal biasa saja. Informasi hoax tersebut membuat reaksi atau tanggapan yang sangat cepat atas informasi yang diterima mulai dari kaget, resah,was-was,dijadikan bahan perbincangan, maupun ingin dibilang ratu berita alias orang yang seolah memilki banyak informasi.
Proses informasi melalui media saat ini beredar begitu cepat didukung oleh kemajuan teknologi saat ini sehingga akurasi dari informasi tidak menjadi prioritas. Bahkan,beberapa media menyebutkan Indonesia "Darurat Hoax".
Hal ini terjadi dikarenakan kebanyakan generasi millenial mendaat informasi dari media sosial daripada media mainstream karena intensnya mereka terhadap telepon pintar. Akibatnya, pengguna media sosial dengan sigap menyebarkan informasi tersebut tanpa mengetahui kebenarannya.
Berita burung yang sering beredar seharusnya menjadi tamparan bagi menkominfo dan masyarakat untuk lebih bijak dalam menilai sehuah informasi. "Perlunya edukasi terhadap masyarakat menyeleksi berita sebelum sharing oleh pemerintah dan menciptakan manusia yang produktif dalam berkomunikasi",ujar Freddy H Tulung seorang pakar komunikasi.
Selain itu,masyarakat khususnya generasi muda menggunakan telepon pintar mereka lebih bijak dengan mencari tahu lebih lanjut informasi yang didapat. Salah satu netizen cerdas adalah tidak cepat menilai sebuah informasi agar tidak ada ada rantai korban hoax selanjutnya. Media adalah alat komunikasi yang ampuh untuk menyebar informasi dan ampuh juga dalam menyebar dan menimbulkan kekacauan netizen di media sosial.
Kini, masyarakat bisa turut serta dalam memerangi hoax. Dilansir dari situs resmi kominfo.go.id ada 5 cara yang dapat dilakukan dalam mengatasi berita hoax di dunia maya. Hal yang dilihat pertama kali adalah mengkritisi sebuah judul. Biasanya berita palsu mengandung judul yang provokatif. Selanjutnya,cermati alamat situs apakah situs tersevut terverifikasi oleh media resmi atau tidak. Yang paling penting dan utama adalah leriksa fakta. Sebaiknya jangan cepat percaya hanya karena informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat.
Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh. Lalu, cek keaslian foto. Era digital saat ini netizen bisa memanfaatkan google untuk mengecek keaslian foto dengan melakukan drag dan drop di google image.
Hal yang terakhir netizen bisa ikut serta dalam grup diskusi anti hoax misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci. Di grup inilah demokrasi sangat dilakukan kaena netizen dapat bertanya apakah informasi yang didapat hoax atau tidak.
Netizen wajib melaporkan jika mendapat konten atau berita palsu ke laman data.turnbackhoax.id yang verisi berita hoax dari netizen atau melaporkan email kominfo. Selain itu, media sosial seperti facebook dan instagram menyediakan fitur report status jika berisi informasi yang dapat merugikan netizen. Jika banyak pengaduan, facebook atau instagram akan menghapus status tersebut. Jadilah netizen cerdas dengan menyaring berita yang didapat sehingga Indonesia bersih dari berita palsu.

Komentar
Posting Komentar